[ONE SHOT] VIOLIN SONATA NO. 5 (SPRING)

FICTION project (1)

VIOLIN SONATA NO. 5 (SPRING)

Alunan lembut biola menuntunku berjalan menuju sebuah ruangan. Kakiku melangkah dengan sendirinya menuju arah suara nada-nada indah Violin Sonata No.5 (Spring) karya Beethoven. Begitu memasuki ruangan itu, mataku langsung terpukau pada penampilan gadis si pemain biola. Dia asyik memainkan musiknya tanpa menyadari kehadiranku. Aku berdiri menatapnya dan mendengarkan musiknya hingga selesai.

Gadis itu terkejut melihat keberadaanku. Ia lalu berjalan ke arahku dan berhenti di hadapanku.

“Hai Kazuo.” ucapnya sambil tersenyum. Aku terkejut mendengar ia menyapaku. Bagaimana ia bisa tahu namaku, pikirku.

“Hai juga. Alunan biolamu sunggguh indah.”pujiku.

“Terima Kasih. Kamu adalah orang pertama yang mendengar permainan biolaku ini dan aku mohon,jangan katakan kepada siapapun tentang ini ya !” pintanya sambil meninggalkanku dengan sebuah pertanyaan besar.

***

“Kazuo Ono” ucap guruku saat mengabsen murid-muridnya. Dengan malas, aku mengacungkan jariku. Aku tak pernah serius ingin sekolah disini. Menurutku, sekolah musik adalah hal yang sangat menganggu dan aku belum pernah menemukan sesuatu yang menyenangkan disana. Sebenarnya, aku sudah berniat ingin berhenti dari sekolah. Tapi, aku urungkan niat itu karena aku tak ingin melihat ibuku menderita. Ibu dan aku harus hidup dalam bayang-bayang kelam yang dibuat oleh ayahku sendiri. Ayahku adalah seorang politikus terkenal dan saat ini, dia ingin mencalonkan diri sebagai walikota.  Sedangkan ibu hanyalah istri gelapnya yang hanya akan ia kunjungi saat ia merasa bosan dengan istri resminya. Jujur, aku benci dengan ayah! Dia seenaknya saja memperlakukan ibu dan aku seperti boneka. Menurut ibu, ayah akan berhenti memperlakukan kami seperti boneka  jika aku menjadi pianis yang hebat.

“Kazuo Ono, mainkan alunan Piano Concerto No.2 karya Rachmaninov !” perintah guruku membuyarkan lamunanku.Gawat! Aku belum berlatih memainkannya. Dengan langkah gontai,aku maju menuju piano disudut kelas dan duduk di depannya. Pikiranku tak karuan sehabis memikirkan kehidupanku dan tak bisa melihat dengan jelas nada-nada balok di dalam kertas partitur.

“Maaf,bu. Saya tak dapat memainkannya. Izinkan saya memainkan Etudes No.4 Op.10  karya Chopin ! “ Aku menekan tuts piano dan memainkan karya Chopin itu dengan gejolak amarah dan kebencianku kepada ayah. Guruku yang ingin membantah permohonanku terdiam saat mendengar permainan pianoku.

Setelah aku selesai memainkannya, guruku lalu mendatangiku,

“Kazuo, kamu sangat hebat, nak. Saya berharap dapat mendengar permainanmu itu pada saat showcase nanti. Kamu bisa kan?” ucapan guruku membuatku terkejut. Aku main di showcase? Tentu saja, aku mau. Ibu pasti senang mendengar berita ini.

***

Setelah penunjukanku di showcase, aku harus berlatih dengan keras agar aku bisa membanggakan hal ini kepada ibu. Setiap hari, aku harus pulang larut.  Hari ini, aku bisa pulang awal karena guruku sedang sakit. Saat melewati sebuah lapangan sekolah umum,sebuah bola basket bergulir di kakiku. Aku mengambil bola itu dan mendengar riuhan orang meminta bolanya. Memegang bola itu membuatku rindu akan basket. Terakhir kali aku bermain basket saat aku SMP sebelum aku masuk akademi musik itu. Dengan reflek,aku mendribble bola basket dan berlari menuju lapangan. Aku lalu melakukan Lay Up ke arah ring basket dan bola basket masuk ke dalamnya. Perfect!

“ Cool Man !”suara itu mengejutkanku. Aku tersadar dan melihat orang-orang memujiku. Astaga ! Apa yang telah kulakukan?

“Loe anak mana? Kalo loe masuk basket,pasti keren deh!”tanya seorang pemuda kepadaku. Aku terdiam dan menunjuk ke arah jaket almamaterku. Pemuda itu mengerti maksudku dan tak ingin bertanya lebih saat melihat lambang akademi musik sekolahku.

Aku meninggalkan lapangan. Saat beberapa langkah telah meninggalkan lapangan,aku mendengar suara wanita memanggilku.

“Hei Kazuo !” teriaknya. Aku menoleh ke belakang dan melihat gadis sang pemain biola berlari menujuku. Dia berhenti sambil terengah-engah.

“Gila! Permainan basket kamu keren banget !!” pujinya. Tak tega melihatnya bersusah payah mengatur nafas, aku memberikan sebotol minuman ion kepadanya. Ia lalu mengambil dan menegak minuman itu hingga tandas.

“Aku harus berlari dari lantai dua itu agar dapat mengejarmu.” lanjutnya sambil menunjuk gedung sekolah umum tadi.

“Ehm..aku sebenarnya sudah lama penasaran, bagaimana kamu bisa tau namaku?” Pertanyaanku itu membuatnya tersenyum. Ia lalu menggandeng tanganku

“Ayo,ikut aku ! Aku akan menceritakan segalanya.” Ajakannya itu tak dapat kutolak. Aku menuruti saja langkahnya itu.

***

Aku terkejut melihat apa yang terjadi sekarang. Saat ini, aku duduk di hadapan seorang gadis yang aku sendiri belum tau namanya di sebuah restoran cepat saji. Gadis pemain biola itu sedang asyik menyantap sebuah Cheese Burger sambil tersenyum memperhatikan tingkahku yang gugup.

“Ada yang aneh dengan wajahku ?” tanyaku kepadanya. Dia tertawa mendengar pertanyaanku.

“Kamu cakep ya !” Ucapan spontan itu membuatku malu. Aku belum pernah dipuji secara terang-terangan seperti tadi.

“Wajahmu akan semakin manis kalo kamu tersenyum. Cobalah tersenyum ya, Kazuo!”lanjutnya. Dia lalu menghabiskan sisa Cheese Burger di piringnya.

“Oh iya, bagaimana kamu bisa tau namaku?” tanyaku mengalihkan pembicaraannya tadi.

“Sebelum aku jawab pertanyaan kamu itu, aku mau kamu nanyain dulu siapa namaku!” perintahnya. Ya Ampun ! Gadis di depanku ini sungguh aneh. Jangan-jangan, dia hanya berniat mempermainkanku.

“Oke..oke.. Siapa namamu ?”

“Namaku Odile. Aku tau nama kamu karena aku memang kenal ama kamu.” jawabnya dengan santai.

“Maksud kamu?”

“Aku dan kamu terhubung dengan situasi dan kondisi yang sama. Untuk saat ini,kamu memang belum tau maksudku ini apa. Tapi,aku janji aku akan menceritakannya lebih jelas lagi setelah showcasemu nanti.”

“Ha?Kok kamu bisa tau showcaseku?” tanyaku kembali.

“Aku tau kamu lebih dari yang kamu tau.” jawabannya itu membuatku terdiam.

***

Hari ini adalah hari yang paling kunanti. Setelah berlatih sebulan lamanya,aku berharap penampilanku nanti dapat membanggakan ibu. Setelah bersiap di belakang panggung,akhirnya tibalah giliranku. Aku lalu masuk ke panggung dengan langkah pasti menuju grand piano. Tanganku lalu menekan tuts piano itu dengan perlahan. Kumainkan Piano Sonata No.16 karya Schubert ini untuk ibu.

Deru tepuk tangan bercampur riuhnya penonton showcase mengumandang setelah aku selesai bermain piano. Aku membungkuk mengucapkan terima kasih dan melihat ibu yang duduk di kursi penonton tersenyum berurai air mata.

***

“Ibu bangga padamu,Kazuo. Ibu harap kamu bisa menjadi pianis hebat,nak.” ucap ibu sambil memelukku. Pelukan hangat ibu menguatkan perasaanku. Keinginanku berhenti sekolah langsung pudar saat ibu mengutarakan harapannya. Selalu saja begitu.

Setelah melepaskan pelukannya, ibu pamit pulang. Ia tak dapat lama  menemaniku di showcase karena ayah melarangnya keluar rumah. Ayah takut jika ibu keluar, ibu akan menjadi penghalang mencapai impiannya. Impian menjadi walikota. Aku tau wartawan saat ini pasti sibuk berburu berita karena pemilihan walikota tinggal beberapa minggu lagi.

Ketika aku beristirahat di belakang panggung, sebuah suara yang kukenal menyapaku.

“Hai,Kazuo. Alunan pianomu sungguh indah” ucap Odile sambil memberikan sebuket mawar merah kepadaku. Aku menerimanya dan tersenyum.

“Tuh kan! Kamu manis kalo tersenyum.” lanjutnya sambil tersenyum balik ke arahku.

“Apakah kamu menyaksikan pertunjukanku tadi ?” tanyaku kepadanya.

“Tentu saja.”jawabnya singkat. Aku menatap Odile. Malam ini Odile terlihat sangat cantik sekali. Ia mengenakan LBD dan rambut panjang sebahunya digelung dengan rapi.

“Kamu habis ini ada penampilan lagi ?” tanya Odile mengejutkanku. Aku menggelengkan kepala. Ia tersenyum dan menggandeng tanganku.

“Ayo Pangeran Kazuo. Akan kutunjukkan siapa aku sebenarnya.” ajak Odile membawaku entah kemana.

***

Aku diajak Odile menuju sebuah ruang musik sekolah umum dimana aku bertemu dengan Odile setelah bermain basket. Aku heran dengan maksud Odile itu.

“Aku rasa kita bisa resital disini.” ucap Odile sesampainya.

“Ha? Maksudnya ??”

“Aku ingin kamu menemani aku bermain Spring. Kamu gak keberatan kan?” tanya Odile balik. Dia telah siap dengan biolanya. Mendengar keinginan Odile, aku lalu bergerak menuju piano yang tersedia disana.

Kami pun memainkan Violin Sonata No.5 (Spring) karya Beethoven. Mendengar alunan biola Odile, aku terbuai dan mengikuti alunan biolanya itu dengan permainan pianoku.

***

 Setelah kami berdua resital di ruang musik itu. Odile kembali membawaku ke lantai teratas gedung sekolah itu. Aku yang masih belum mengerti dengan tujuan Odile hanya bisa mengikuti langkahnya.

“Kazuo, gimana pemandangan di atas ini ? Indah kan ?” tanya Odile kepadaku. Aku menganggukkan kepala menyetujui perkataan Odile.

“Kalo aku sedang sedih dan bingung,aku selalu datang kesini. Aku menatap bintang-bintang di langit dan berharap bintang-bintang itu akan membantuku.” lanjut Odile. Ia lalu mengenggam tanganku dan menyuruhku duduk disampingnya.

“Maaf ya, Kazuo telah membuatmu bimbang selama ini. Aku rasa aku harus menceritakan semuanya agar kamu mengerti. Sebenarnya,aku adalah adikmu. Lebih tepatnya, aku adalah anak angkat dari istri sah ayahmu.” Mendengar pengakuan Odile, aku terkejut dan tidak menyangka bahwa pengakuan Odile adalah kenyataan yang harus aku terima.

“Jadi, nyonya telah mengetahui rahasia ayah ? ”tanyaku. Aku selama ini menyebut istri sah ayah dengan sebutan “Nyonya”.

“Ya, mama telah lama mengetahuinya. Akan tetapi, mama menyimpan rahasia itu sambil menunggu ayah berterus terang kepadanya. Kenyataan yang sebenarnya adalah mama tidak dapat memberi ayah keturunan karena kanker rahim yang mama derita. Kemudian, mama mengangkat aku dari panti asuhan walaupun ia tau ayah tidak akan menyetujuinya. Seiring waktu berjalan, mama merasa ada keganjilan yang terjadi hingga mama menyelidiki dan mengetahui ayah telah menikah dengan wanita lain serta memiliki putra yang beranjak dewasa. Mama tidak ingin merusak kebahagiaan itu dan berpura-pura tidak mengetahuinya.” ungkap Odile kepadaku.

“Tapi…” suara Odile terputus.

“Tapi apa ? ”tanyaku balik.

“Aku bingung apakah aku harus mengatakan semua hal ini. Aku tak mau lagi membuatmu semakin kecewa dan sedih.”

“Tenang saja ! Aku siap mendengarkan semua hal kok.” jawabku menenangkan hati Odile.

“Aku tau aku bukan anak yang diharapkan ayah. Aku selalu berharap suatu hari nanti, ayah akan menerima keberadaanku ini. Kemudian, aku  mencari tau semua hal tentang keluargamu termasuk tentang dirimu. Aku melihat kamu belajar di akademi musik dan mempelajari piano ,aku lalu berusaha belajar musik dan menekuni biola. Aku selalu menatapmu dari belakang hingga pada akhirnya aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Keinginanku untuk menjadi sosokmu berubah menjadi kekaguman dan rasa sayang yang tak seharusnya. Aku sayang kamu melebihi perasaan sayang adik kepada kakaknya.” Kalimat terakhir yang kudengar telah membiusku. Kagum ? Sayang ? Jadi,semua itu harus Odile tanggung sendiri. Bodohnya aku selama ini ! Aku selalu mengeluh dan berpikir bahwa hidupkulah yang paling menderita.

“Kazuo ? Kamu marah ya ??” tanya Odile dengan suara getir. Aku rasa ia berusaha menahan air matanya. Genggaman tangan Odile semakin kuat. Dengan reflek, aku menarik kedua tangan Odile dan memeluknya.

“Selama ini, kamu telah menderita sendirian dan berusaha melindungiku. Sekarang, aku akan melindungimu dan berharap bisa mengabulkan semua keinginanmu ya,Putri Odile.”

***

Sekarang,aku melihat dunia dengan sisi berbeda. Aku tidak lagi pesimis dan menyerah dengan apa yang terjadi padaku. Aku harus percaya apa yang telah Tuhan takdirkan kepadaku merupakan hal yang baik dan aku harus bersyukur terhadap itu semua.

Permintaan pertama yang diinginkan Odile adalah aku harus bisa jujur dengan diriku sendiri. Permintaan Odile itu sungguh berat karena aku sulit mengutarakan keinginanku berhenti menjadi pianis kepada ibuku.

“Jadi,kamu suka musik? Apakah kamu benar-benar ingin menjadi pianis karena keinginanmu?” tanya Odile di telepon saat aku meminta pendapatnya.

“Aku menjadi pianis karena menurut ibu,ayah akan berhenti memperlakukan kami sebagai boneka suruhannya.”jawabku dengan polos. Mendengar hal itu,Odile tertawa.

“Ehm..aku akan membantu meyakinkan ibumu bahwa apa yang ia pikirkan selama ini adalah salah.”

***

Ibu mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih sambil berlinang air mata kepada Odile. Odile lalu memegang kedua tangan ibu meyakinkan sekali lagi kata-kata yang ia ucapkan adalah pasti dan kenyataan. Setelah memeluk ibu,Odile pamit pulang. Saat melewatiku,dia tersenyum meninggalkan kesan bahwa tugasnya telah selesai.

“Kazuo, kamu disitu nak?”tanya ibu. Aku yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu kamar lalu masuk ruangan ibu. Ibu tersenyum dan menyuruhku duduk di hadapannya.

“Maafkan ibu, nak. Ibu tidak tau kalau kamu menjadi pianis karena kemauan ibu. Kamu juga selama ini telah memaksakan diri untuk bertahan demi ibu.” ucap lembut ibu.

“Tak apa-apa,bu. Kazuo akan melakukan apapun demi ibu.”

“Tidak. Ibu tidak ingin kamu bermain piano dengan perasaan gundah. Musik akan semakin indah jika yang memainkannya adalah pemain yang sangat mencintai musik. Ibu dengar dari Odile,kamu berbakat menjadi atlet basket. Apa kamu mencintai basket,nak?”

Aku menganggukkan kepala menyetujui perkataan ibu. Ibu menghela nafasnya seperti berat melepas sebuah keputusan,

“Ibu ingin kamu menjadi atlet basket yang hebat. Kabulkan permohonan ibu ini ya!” ucapan ibu itu seperti air yang telah memadamkan gejolak api di dalam hatiku. Aku memeluk ibu dengan erat saking senangnya.

***

Suasana pagi setelah diguyur hujan membuat aku yang berangkat ke sekolah musik harus merapatkan badan dengan jaket berlapis. Aku melangkah dengan riang karena beban yang selama ini kupendam telah terselesaikan. Beberapa meter sebelum gerbang sekolah,Odile menunggu di bawah pohon sambil tersenyum kepadaku.

“Kazuo,hari ini kamu menemani aku jalan – jalan ya!” pinta Odile sambil menggandeng tanganku dan berjalan menjauhi sekolah.

“Tapi,Odile. Aku harus sekolah! ”jawabku dengan tegas dan melepaskan genggaman tangan Odile.

“Ayolah..sesekali bolos gak masalah kan? Kamu sudah terlalu sering menjadi anak baik dengan belajar musik walaupun hati kamu gak senang.”balas Odile kepadaku. Mendengar hal itu,aku pun mengikuti langkah Odile.

***

Ternyata Odile membawaku ke sebuah taman di pnggir kota. Tak banyak orang yang mengetahui taman ini karena letaknya yang tersembunyi gedung – gedung mewah. Kami berdua duduk di bangku taman tersebut dan saling menatap satu sama lain.

“Odile..aku ingin meluruskan sesuatu agar kamu tidak salah paham denganku.”ucapku sambil menatap bola mata Odile. Odile tersenyum simpul seakan – akan mempersilakanku meneruskan pembicaraan.

“Aku tetap ingin meneruskan keinginan ibu untuk belajar musik….akhir – akhir ini,aku baru menyadari ternyata aku telah terperangkap dengan pikiran sempitku yang memandang musik dengan sudut pandang negatif…padahal,musik selalu menemaniku dan menenangkanku apabila aku sedang dirudung masalah. Aku memutuskan agar tetap berada di jalan ini karena aku yakin Tuhan telah merencanakan jalan terbaik bagiku dari awal.”jelasku kepadanya. Odile yang mendengarkan penjelasanku hanya diam sambil memikirkan sesuatu. Dia lalu merogoh saku jaketnya dan mengambil handphone lalu sibuk mengutak – atik handphonenya.

“Kazuo, dengarkan musik ini!” perintah Odile sambil mendekatkan handphonenya di telingaku. Musik indah mengalun dari speaker handphone Odile. Aku takjub dengan alunan musik piano tersebut sehingga membuatku ingin mencoba memainkannya di piano.

“Musik ini menghubungkan cinta dua insan yang terpisah karena putaran waktu.” ucap singkat Odile. Aku yang tak mengerti maksud Odile hanya bisa terdiam.

“Aku benar-benar yakin saat ini tugasku memang telah selesai.”lanjut Odile. Dia lalu berdiri dan berjalan menjauhiku yang bingung dengan ucapannya.

“KAZUO, AKU MENCINTAIMU DAN JANGAN PERNAH MENCARI AKU LAGI! !” teriak Odile kepadaku dan kemudian berlari meninggalkanku. Aku tak dapat bangkit dari bangku taman dan hanya bisa menatap kepergiannya. Tak beberapa lama kemudian, hujan turun dengan derasnya dan mengguyurku yang masih tak dapat beranjak dari bangku taman.

***

Tujuh Bulan Kemudian…

Aku berjalan gontai sepulang sekolah. Aku baru saja mengikuti ujian akhir kenaikan tingkat. Aku pasrah memikirkan jawaban dari soal – soal ujian teori dan menyesal karena pernah tidak serius dengan musik saat  awal – awal aku masuk sekolah musik. Pusing karena memikirkan ujian,telingaku menangkap alunan piano musik yang kudengar dari handphone Odile. Seketika itu juga aku berlari menuju ke sumber suara tersebut dan berharap orang yang memainkannya adalah Odile. Sesampainya aku di ruang musik lantai dua,aku melihat dua orang gadis duduk di hadapan piano sambil tertawa keras.

“Maaf,siapa ya yang memainkan piano disini tadi?” tanyaku kepada mereka. Pertanyaanku itu mengagetkan mereka hingga mereka berhenti tertawa dan melihat ke arahku.

“Kak Kazuo dari kelas II B ya ?” tanya balik salah seorang gadis tersebut. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan mereka.

“Kita iseng-iseng nyoba main musik tadi Kak. Tapi,maaf ya kak kalo permainan kami mengganggu telinga kakak. Kami berdua junior kakak dan baru masuk sekolah musik tahun ini.” lanjut gadis tadi.

“Gak apa-apa kok ! Kakak ingin tau,musik tadi karyanya siapa ya? Kakak pengen nyari partitur musiknya nanti.”tanyaku kepada mereka.

“Itu musik karya Jay Chou di film Secret, Kak. Kalo gak salah nama musiknya juga Secret. Kalo kakak mau, saya punya partiturnya dan bisa minjamin kakak partitur musik tersebut.”jawab gadis lain. Aku kemudian mendekati mereka dan meminjam partitur musik yang mereka maksud.

“Kakak juga harus nonton filmnya biar kakak bisa mengerti maksud dari musik ini.” nasehat mereka kepadaku sambil menyerahkan partitur musik Secret. Mendengar hal tersebut, aku berinisiatif untuk singgah di rental video sekitar rumahku. Mungkin,aku bisa memahami makna dari perkataan Odile saat pertemuan terakhir kami di taman.

***

Setelah menonton film Secret,entah kenapa perasaanku gundah tak tentu arah memikirkan kepergian Odile yang misterius. Aku sempat berpikir untuk menemui nyonya agar mengetahui keberadaan Odile sekarang. Ya,aku harus memberanikan diri mendatangi rumah ayahku dan bertemu dengan nyonya walaupun dengan resiko aku akan diusir oleh ayah. Aku lalu bergegas berangkat menuju rumah kediaman ayah dan nyonya.

Sesampainya aku di rumah ayah yang megah serta dijaga oleh banyak bodyguard ayah,aku hanya bisa terdiam memikirkan siasat agar bisa menembus rumah ini tanpa diketahui oleh bodyguard – bodyguard ayah itu. Tiba-tiba pundakku disentuh oleh seseorang dan aku menoleh ke arah orang tersebut. Kulihat sesosok wanita berumur dengan rambut sebahu yang mulai memutih serta wajah pucat berdiri di belakangku. Aku mengenal wanita itu dan memanggilnya nyonya.

“Nak,apa yang kamu lakukan disini?”tanyanya dengan suara lirih.

“Maaf,nyonya. Aku kesini hanya ingin bertemu dengan Odile.”jawabku kepadanya dan berharap dia akan mempertemukanku dengan Odile.

“Nak Kazuo,ibu tidak mengenal Odile.Siapa dia?”tanyanya balik. Aku heran kenapa dia tak mengenal putri angkatnya sendiri. Apakah dia sengaja menjawab seperti itu agar aku tak bertemu dengan Odile?

“Odile itu putri angkat nyonya kan?Aku dan Odile berteman baik dan aku mohon nyonya mau mempertemukanku dengan Odile..”harapku dengan hati gugup. Kalaupun aku tidak diperbolehkan,aku tetap akan memaksa masuk ke rumah ayah.

“Ibu tidak memiliki putri angkat bernama Odile. Putri ibu satu-satunya bernama Odette dan saat ini dia sedang terbaring koma di rumah sakit.” Pernyataan nyonya sontak mengagetkanku. Aku mulai berpikir macam-macam mengenai sosok Odile. Akan tetapi,aku merasa penasaran dengan Odette dan ingin bertemu dengan dia. Aku mengutarakan niatku itu kepada nyonya dan nyonya setuju membawaku ke rumah sakit untuk menjenguk Odette disana.

***

Seperti mengalami dejavu,aku melihat sosok gadis yang terbaring koma di depanku berwajah mirip sekali dengan Odile. Nyonya berulang kali meralatku dengan mengatakan bahwa putrinya bernama Odette dan telah koma semenjak setahun lalu. Aku mendengarkan cerita nyonya dengan seksama mengenai Odette koma karena dia ditabrak lari orang yang tak bertanggung jawab sepulangnya ia dari sekolah.

“Air mata ibu telah kering dan ibu selalu menantikan keajaiban dari Tuhan agar Odette bisa sadar dari komanya.”ucap nyonya sambil mengelus wajah Odette. Hatiku nelangsa melihat perjuangan nyonya yang tetap tabah menemani Odette. Tiba – tiba mataku tertuju kepada sebuah buku kecil berwarna hitam pekat di meja sebelah tempat tidur Odette. Entah kenapa,aku penasaran sekali dengan buku itu dan tanpa kusadari,aku bergerak mengambil buku tersebut.

“Buku ini milik siapa,Nyonya?”tanyaku sambil menunjukkan buku kecil tersebut kepada nyonya.

“Ibu baru melihat ada buku disitu..Ibu kurang tau itu milik siapa.”jawab nyonya. Ia kemudian beralih memandangi Odette. Pikiran apa yang merasuki diriku ini sehingga aku berani membuka buku itu dan kemudian tersentak membaca sebuah pesan  di sana.

Teruntuk Kazuo Ono,

Maafkan aku yang telah membuatmu bingung dengan apa yang terjadi selama ini. Aku adalah Odile yang selama ini menemanimu walaupun kamu tak bisa melihatku. Odette di hadapanmu itu adalah ragaku dan jiwa Odette yang menemuimu adalah aku. Tuhan mengirimkanku ke hadapanmu untuk membantumu agar kamu melihat dunia dengan positif dan menerima rencana terbaik Tuhan.

Ayahmu selama ini tak pernah ingin memperlakukan kamu & ibumu sebagai boneka. Dia hanya tak bisa mengungkapkan ketulusan cintanya pada ibumu kepada dunia karena tak ingin menyakiti hati wanita sebaik mama yang juga ia cintai. Maka dari itu,maafkan ayah ya…

Aku yakin kamu adalah pemain piano yang berbakat. Berkat musikmu itu,aku tetap hidup hingga detik ini dan terus berharap agar kita bisa bermain Spring karya indah Beethoven bersama – sama.

 

PS : Aku mencintaimu setulus perasaan Xiao Yu kepada Xiang Lun walau ada sebuah garis ruang dan waktu yang memisahkan kita. Apakah kau mencintaiku??

 

Ya,aku mencintaimu setulus Xiang Lun kepada Xiao Yu dan akan menunggumu terbangun dari tidur panjangmu itu. Tiba-tiba,suara yang kukenal mengagetkanku dan membuatku harus mengalihkan pandangan kepada sumber suara tersebut.

“Ibu,siapa pria yang sedang menangis di hadapanku itu?” tanya Odette dengan suara lirih kepada nyonya yang sama kagetnya dengan diriku.

Fin-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s